Jihad Sosmed, Toleransi Dan Kebhinnekaan


Di timeline saya, sedang rame membahas tentang sikap diam, kebhinnekaan dan toleransi. Tampaknya, ini menjadi semacam 'perang' baru setelah episode-episode yang lalu.Fyiuh...

Sahabat, izinkan saya berpendapat, mengeluarkan apa yang ada dalam benak.

Jadi begini, tentang postingan beberapa teman yang merasa terganggu saat sikap diamnya selama ini dihakimi sebagai wujud ketidakpedulian atau semacamnya. Dalam hal ini, saya sendiri secara pribadi, tak pernah bersikap mengecam atau mencela kawan-kawan yang diam dan tak menunjukan keberpihakan mengenai kasus penistaan yang dilakukan oleh petahana DKI. Karena menurut saya, ini kompleks.

Ini tentang syaja'ah (keberanian) ini tentang keimanan, ini tentang nahi munkar, ini tentang karakter, juga tentang menjaga hubungan, pun ini tentang pilihan.

Saya hanya teringat sabda Rosulullah SAW terkasih,
‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Begitulah, Rosulullah sudah memberikan gambaran, maka action kita akan banyak dipengaruhi oleh banyak hal.

Dalam konteks sosmed, bagaimanapun, kita hidup di era dimana ghodzwul fikri (perang pemikiran) sudah sedemikian marak, masif dan merajalela. Keberpihakan media, standar ganda, pemutarbalikan fakta dan pemelintiran berita adalah kenyataan hari ini.

Maka, meski enggan kita menyebutnya, sosmed di era ini adalah medan perang. Tulisan, status, opini dari berbagai pemikiran dan berbagai jenis orang berseliweran memenuhi beranda kita. Merasuk ke dalam pikiran, mempengaruhi cara pandang yang kemudian sanggup merubah prilaku. Ini sudah terbukti. Baik secara positif, maupun negatif.

Kita mau ada di posisi mana?

Lihatlah dunia kita hari ini.

Betapa banyak ketidakkjujuran, kemaksiatan, kejahatan, penyimpangan bahkan kekejian yang terlegitimasi karena pemberitaan yang tidak berimbang. Semua keburukan ini terus digaungkan, terus diberitakan di berbagai kesempatan melalui berbagai media mainstream. Menumpulkan nurani dan sisi kemanusiaan kita, bahkan sisi keimanan kita. Maka terbentanglah di hadapan kita, tercampurnya yang haq dengan yang batil. Bahkan berubahnya nilai. Sesuatu yang batil nampak seperti sesuatu yang haq demikian juga sebaliknya.

Beruntunglah orang-orang yang Allah jaga agar dapat tetap teguh memegang kebenaran. Tetap istiqomah dalam kebaikan, dan tetap memiliki furqon dalam hatinya.

Namun, orang seperti ini berapa banyak?

Tak bisa kita pungkiri, orang-orang yang belum paham akan dien ini, akan kebenaran, minim ilmu dan informasi atau diliputi keragu-raguan masih sangat banyak di sekitar kita.

Jadi, apa yang terjadi jika tsunami informasi negatif menyapu mereka?

Maka, inilah pentingnya kita berperan sesuai hadits di atas.

Bagi muslim yang menyadari bahwa dirinya memiliki kewajiban untuk amar maruf nahi munkar, atau sejak awal memahami sebuah ungkapan 'nahnu duat qobla kulli syain' (engkau adalah dai sebelum menjadi apapun) maka berkontribusi dalam apa yang kemudian disebut 'cyber jihad' atau 'jihad sosmed' atau 'semut ibrahim' adalah sebuah panggilan nurani, panggilan iman.

Karena Allah, telah menyampaikan dalam Alquran:

"Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)." (QS. Al-Anfal:60)

Maka, kepada kawan yang memilih dengan jelas untuk menjadi semut ibrahim, saya ucapkan selamat, karena dakwah adalah pekerjaan para nabi dan tak ada yang lebih mulia dari menyeru ke jalan Allah. Karena sosmed, adalah kuda perang kita di zaman ini.

Namun, perlu kiranya kita senantiasa meluruskan niat dan menjaga akhlakul karimah dalam menyampaikan kebenaran dan membantah dusta dengan bantahan yang baik. Jangan sampai justru cara penyampaianmu membuat dakwah islam tercoreng. Jangan sampai kau merasa menjadi lebih baik dan mencela sesama muslim yang tidak menunjukkan keberpihakan sepertimu. Karena bisa jadi, ia telah melakukannya, meski hanya dalam hati. Ia diam, mungkin untuk menjaga dirinya dari sebuah kesalahan berpendapat berakibat mencoreng citra dakwah itu sendiri. Ia diam, mungkin untuk sebuah kemaslahatan yang lebih besar.

Mereka yang diam itu (di sosmed) belum tentu tidak peduli, bisa jadi ia berjuang dengan cara yang lain. Ia lebih aktif ber amar maruf nahi munkar di dunia nyata, misalnya. Jadi, jika kau memilih jalan jihad sosmed, hargai juga ia yang tak melakukannya. Karena bukankah di dalam Alquran Qs. Attaubah:122, Allah melarang semua orang berangkat berjihad? Dan menyisakan sisanya untuk mencari ilmu yang dengannya ia berkarya dengan itu.

Bagimu yang memilih diam, kembali luruskan niat, lihatlah jaaauuh ke dalam lubuk hatimu. Apakah kediamamu karena kau bepegang pada hadits 'Falyakul khoiron auliyasmut, berbicaralah yang baik atau diam' dan untuk menjaga keharmonisan hubungan pertemanan yang sejatinya mereka juga adalah objek dakwahmu. Atau, alasanmu karena takut (takut dicap radikal, takut diunfriend, takut dicemooh, takut kehilangan sumber rizki, takut dibilang intoleran, takut dibilang tak moderat, dll).

Juga, mengertilah, bertenggang rasalah pada kawan lain yang memilih menjadi semut Ibrahim. Meskipun kau mungkin bosan dan 'gerah' dengan postingan mereka yang masih seputar isu yang sama. Jangan kau ikut orang-orang yang mengatakan mereka sebagai keterlaluan, lebay, radikal dan intoleran. Bahkan sampai kau pertanyakan, 'memangnya ada jihad sosmed? Lalu syahidnya gimana? Ketika habis
kuota?' Sebagaimana diammu, mereka juga berhak untuk bersuara.

Jadi, usahlah kalian yang bersuara dan yang diam saling serang. Serahkan pada Allah, Ia Maha Melihat upaya setiap hamba. Bukankah Allah telah berfirman:

"Katakanlah (Muhammad) Setiap orang beramal sesuai dengan keadaannya masing-masing. Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (Qs. Al-Isro: 84)

Dan, bagimu, duhai manusia yang mengaku muslim, namun kau justru menjadi duri dalam daging di tubuh umat ini. Bagian dari kami, namun menusuk dan menyakiti hati.

Aku berduka untukmu dengan sedalam-dalamnya. Aku prihatin dengan segala sikapmu. Kau yang dengan lantang dan gagah berani menghina ulama, mencerca para pembela firman Tuhanmu, meneriaki mereka dengan segala umpatan, makian dan tuduhan keji, tapi pada saat yang sama begitu cinta dan membela pada orang yang sudah jelas menistakan agamamu. Padahal sudah sedemikian jelas dan terang benderang apa yang ia katakan dan apa yang ia lakukan. Summum, bukmun, umyun, itukah dirimu? Sejatinya dirimu lebih berbahaya dari mereka yang diam!

Semut Ibrahim, bergerak atas dasar wahyu Ilahi. Mereka yang diam. Bersikap atas dasar hadits Rosulullah tercinta. Dan kau, atas dasar apa kau berani menghina ulama, mencerca pembela Alquran, menuduh mereka dengan tuduhan keji dan gagah berani membela penista. Atas dasar apa? Carilah, adakah dalam kitab dan sunnah Rosulmu sesuatu yang bisa kau jadikan hujjah atas semua tindakanmu itu?

Astaghfirullahaladzhiim... bertaubatlah saudaraku. Selama masih ada waktu. Sebelum saat itu tiba, ketika kau terbaring tak berdaya. Terbelalak penuh sesal menatap ke atas tersebab Izroil memutar video perbuatanmu selama di dunia. Saat itulah kau baru menyadari, bahwa posisimu sudah tergambar dalam Alquran.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka [berita-berita Muhammad], karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu... (QS. Al-Mumtahanah [60] : 1).

Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (QS. An-Nisa: 138)

Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur'an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahanam. (Qs. AnNisa:140)

Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (QS. AnNisa :145)

Tidakkah kalian merasa takut atas ancaman Allah itu, wahai saudaraku?

Dan untukmu, saudaraku sebangsa dan setanah air yang begitu gegap gempita bicara kebhinekaan dan toleransi seolah apa yang kami lakukan bertentangan dengan itu. Negeri kita adalah negeri dengan mayoritas muslim. Sudah berpuluh-puluh tahun kita hidup tenang berdampingan meski berbeda suku bangsa, bahasa dan agama. Bukan begitu? Jadi, mohon untuk bijaklah dalam bersikap dan menilai. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga.

Pun kepada anda, kawan non muslim, mengapa kalian harus baper, bersedih dan mempertanyakan ketika muslim menyebut kalian kafir? Ini keyakinan kami. Sama dengan keyakinan sebagian dari kalian yang menyebut kami sebagai domba-domba yang tersesat. Jadi, mari kita pegang teguh keyakinan masing-masing dan tidak saling mencampuri.

Urusan kami hari ini, adalah dengan seseorang bermulut jamban. Kami melihat dan meminta pertanggungjawaban PERBUATANnya. Meski ia adalah salah satu dari kalian, dan dari salah satu etnis yang ada di negeri ini, kami tak memukul rata bahwa kalian seperti itu juga. Sekali kali TIDAK. Kami menyadari akan ada saja oknum yang jahat pada setiap agama pada setiap ras dan suku. Sama halnya ketika ada oknum yang mengaku/beridentitas muslim melakukan hal-hal keji yang sejatinya TIDAK DIAJARKAN dalam Islam. Maka, bijaklah dalam menilai.

Wahai kalian yang meneriakkan HAM, kebhinnekaan dan toleransi, jika kalian mau jujur melihat, seringkali kami yang mayoritas ini, yang sudah sedemikian besar toleransinya justru terintimidasi sedemikian rupa.

Saat kalian damai berdampingan dengan kami, atau saat ada muslim yang tersakiti akibat diskriminasi minoritas, media diam, kalian diam. Lihatlah larangan menggunakan jilbab bagi karyawan muslim di Bali, ini hanya satu contoh kecil. Bahkan saat ada oknum yang melakukan pembakaran masjid di Tolikara lihatlah bagaimana sejatinya kalian semua bungkam.

Namun, saat ada kasus bom Samarinda, kalian semua berteriak seolah kami begitu keji dan tidak peduli. Padahal pada saat yang bersamaan kami semua mengecam dan mengutuknya. Sebagian dari kami juga menggalang dana bagi korban. Namun, tetap saja kalian gaungkan itu jargon kebhinekaan dan toleransi seolah kami buta akan hal ini.

Jangan ajari kami toleransi. Jangan ajari kami kebhinnekaan. Karena itu adalah urat nadi agama kami. Islam tak pernah membeda-bedakan manusia atas bentuk fisik, kami mulia karena iman. Dalam Islam, seorang budak hitam memiliki kedudukan mulia karena imannya.

Tinta emas sejarah sudah mencatat, semua manusia yang berbeda bangsa dan agama hidup tenang dan dilindungi dalam masa kekhalifan Islam selama berabad-abad. Madinah adalah contoh nyata kebhinekaan, saat Muslim, Yahudi dan Nasrani hidup tenang berdampingan.

Tengoklah sejarah penaklukan Islam di seluruh dunia, tak ada kekerasan, Islam melindungi rumah ibadah dan juga keselamatan pemeluknya tak ada yang dirusak dan disakiti. Islam menghargai kebhinekaan dan sangat toleran. Ini fakta, catat.

Dan lihatlah hal yang berkebalikan, peristiwa Andalusia, bagaimana muslim dibantai dan dipaksa pindah agama saat kekhalifahan Islam direbut oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabela. Atau saat tentara Mongol membantai kaum muslim dengan begitu keji, sampai mereka membuat tumpukan menggunung dari potongan kepala umat muslim. Siapa pelakunya? Jelas BUKAN muslim!

Di masa kini, tengoklah saat umat muslim menjadi minoritas di berbagai belahan dunia, di Myanmar, Kashmir, Moro, Patani, mereka menderita, bahkan dibantai!

See?

Masih ingin berteriak soal kebhinekaan dan toleransi dan mengecam seolah kami buta akan hal itu? Bercerminlah!

Allahul musta'an.

Allah... saksikan, sudah kusampaikan.

Cahya Naurizza
-Seorang Ibu yang memilih menjadi semut Ibrahim-
Share To: