2.     Pluralisme Agama 
Yang dimaksudkan dengan pluralisme agama adalah faham yang menyamakan semua agama. Faham ini lahir sebagai akibat sekularisme and proses sekularisasi masyarakat Barat. Secara ringkasnya terdapat empat aliran pemikiran pluralisme agama yang berkembang sekarang ini: (1) Civil Religion; (2) Global Theology; (3) Transcendent Unity of Religions; dan Syncretism.  Dua yang pertama lahir di Barat akibat faham sekularisme,  dan dua yang terakhir merupakan reaksi terhadap sekularisme. Di Indonesia nampaknya aliran Transcendent Unity of Religions (TUR) mendapat sambutan dari tokoh-tokoh pemikir Islib.
Ajaran TUR membagi agama-agama besar dunia (Islam, Kristian, Yahudi, Budha, Hindu, dll.) kepada dua struktur utama; Exoteric (Luaran/Zahir) dan Esoteric (Dalaman/Batin). Agama-agama ini menurut mereka hanya berbeda pada struktur luarannya dan zahirnya sahaja, sedangkan strukur dalamannya dan batinnya adalah sama, iaitu menuju pada tuhan yang satu. Pemikir Barat yang mengembangkan faham TUR adalah Rene Guenon (lahir di Perancis tahun 1883) yang kemudian menganut Islam serta Frithjof Schuon (lahir di Jerman tahun 1907) juga kemudian menganut Islam dan menukar nama menjadi Isa Nuruddin Ahmad, sementara dalam dunia Islam faham ini mendapat sokongan dari Seyyed Hossein Nasr yang berlatar belakang Syi’ah.  Nasr yang juga berpegang dengan faham ‘Filsafat Perenial’ (Perennial Philosophy) telah terpengaruh dengan pendekatan perbandingan agama (comparative religions) yang berkembang di Barat.  Hal ini diakui juga oleh Nuh Ha Mim Keller, seorang sarjana Muslim yang suatu ketika dahulu tertarik dengan dan akhirnya memeluk Islam kerana tulisan-tulisan Nasr. Beliau mengatakan:
While from a Shiite background, Hossein Nasr has a firmer footing in traditional Islamic knowledge than many other western interpreters of Islam, Muslims and non-Muslims, and his works are generally free of the mistakes in detail found in other’s books, though some passages are occasionally colored by the comparative religions approach that mars the writings of a number of Muslim intellectuals.
Paham TUR oleh sebahagian para pendokongnya, seperti Huston Smith yang menekuni bidang perbandingan agama di Barat, telah disederhanakan dengan sebuah permisalan segitiga, dimana Tuhan berada di titik tertinggi, sementara semua agama mengalir ke bawah dari titik tersebut; begitu juga pada masa yang sama semua agama naik dari bawah ke atas saling berdekatan dan akhirnya bertemu di titik puncak itu. Menurut mereka, itulah titik ‘transcendent’ dimana semua agama-agama bersatu di situ.
Nurcholis Madjid, tokoh yang menggagaskan sekularisasi di Indonesia, adalah juga tokoh yang turut menyebarkan faham TUR. Hanya sanya permisalan yang digunakan oleh Cak Nur bukanlah segitiga sebagaimana Huston Smith, tetapi permisalan roda yang memiliki jejari yang banyak, dan masing-masingnya bertemu di titik tengah bulatannya yang dikira sebagai titik ‘transcendent’. Dalam hal ini beliau menyatakan:
“Sebagai sebuah pandangan keagamaan, pada dasarnya Islam bersifat inklusif dan merentangkan tafsirannya ke arah yang semakin pluralis. Sebagai contoh, filsafat perenial yang belakangan banyak dibicarakan dalam dialog antaragama di Indonesia merentangkan pandangan pluralis dengan mengatakan bahwa setiap agama sebenarnya merupakan ekspresi keimanan terhadap Tuhan yang sama. Ibarat roda, pusat roda itu adalah Tuhan, dan jari-jari itu adalah jalan dari berbagai agama. Filsafat perenial juga membagi agama pada level esoterik (batin) dan eksoterik (lahir). Satu agama berbeda dengan agama lain dalam level eksoterik, tetapi relatif sama dalam level esoteriknya. Oleh karena itu, ada istilah “Satu Tuhan Banyak Jalan.”
Faham pluralisme agama, khususnya TUR, yang meyakini semua agama pada hakikatnya sama dan benar, kini semakin diterima oleh generasi muda Islib. Sukidi, koordinator Jaringan Islam Muda Muhammadiyah (JIMM), kelompok Islib yang cuba masuk ke dalam pertubuhan Muhammadiyah, menyatkan hal yang sama tentang TUR. Beliau meminjam istilah Mahatma Gandhi dalam menggunakan permisalan pohon dan ranting bagi mengungkapkan kesatuan agama-agama di peringkat ‘transcendent’. Katanya:
“Dan, kosekuensinya, ada banyak kebenaran (many truths) dalam tradisi dan agama-agama. Nietzsche menegasikan [@menafikan] adanya ‘Kebenaran Tunggal’ dan justru bersikap afirmatif terhadap banyak kebenaran. Mahatma Gandhi pun seirama dengan mendeklarasikan bahwa semua agama – entah Hinduisme, Buddhisme, Yahudi, Kristen, Islam, Zoroaster, maupun lainnya – adalah benar. Dan, konsekuensinya, kebenaran ada dan ditemukan pada semua agama. Agama-agama itu diibaratkan, dalam nalar pluralisme Gandhi, seperti pohon yang memiliki banyak cabang (many), tapi barasal dari satu akar (the one). Akar yang satu itulah yang menjadi asal dan orientasi agama-agama.”
Faham TUR yang pada asalnya masih bersifat teoritis dan filosofis, telah diterjemahkan oleh para pendukung JIL dalam bentuk yang lebih ekstrim dan radikal. Koordinatornya, Ulil Absar Abdalla, tanpa segan silu lagi menyatakan bahawa “Semua agama Sama. Semuanya menuju jalan kebenaran. Jadi, Islam bukan yang paling benar.”  Apabila akidah Islam telah rosak, maka syari’ahnya menjadi tidak bermakna sama sekali. Jadi merekapun menolak larangan kahwin beza agama yang merupakan bagian dari syari’ah Islam. Bagi mereka larangan itu sudah tidak lagi relevan dalam era pluralisme agama kini. Ulil Absar mengungkapkan dalam satu tulisannya yang bertajuk “Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam” dalam surat khabar Kompas, bahawa: “Larangan kawin beda agama, dalam hal ini antara perempuan Islam dengan lelaki non-Islam, sudah tidak relevan lagi.”
Faham pluralisme agama di Indonesia juga cuba diselundupkan dalam program pendidikan sekolah rendah kononnya untuk melahirkan generasi masa depan Muslim yang ‘pluralis’. Sekolah yang mencuba program pluralisme agama itu adalah Sekolah Madania di Jakarta. Dr. Budhy Munawar Rahman, salah seorang aktivis JIL, yang juga menjadi pengurus Sekolah Madania menyatakan:
“Memang, ada suatu eksperimen yang dilakukan di Madania (TK, SD, SMP, dan SMU milik Paramadina). Dengan sistem active learning sejak SD, setiap anak biasanya mendapatkan pendidikan agama sesuai agama masing-masing. Juga ada sistem moving class; ketika pelajaran agama, mereka pindah ke kelas agama masing-masing. Ada macam-macam kelas agama terpisah-pisah; Christian class, Catholic class, Islamic class, dan lain-lain. Jadi, pasal 13 ayat 1 A RUU Sisdiknas sudah kami lakukan di Madania. Nah, karena kami mau menekankan pluralisme agama, pada masa-masa tertentu, misalnya tiga bulan sekali, kami adakan spiritual atau religion fair atau ‘pekan raya agama.’ Setiap kelas agama akan berhias diri, simbol-simbol agama juga ditampilkan, dan setiap anak akan datang berkunjung, melihat, dan mungkin bertanya kepada guru agama; apa sih artinya pohon natal? Di sana kita jumpa Budha yang sedang melakukan meditasi, tampilan Ka’bah, dan lain-lain. Semua anak bisa melihat simbol-simbol keagamaan yang sangat ekspresif dan penuh nilai kesakralan. Itu mungkin pengalaman tersendiri bagi anak-anak. Kami tak mungkin mengajarkan wawasan pluralisme, tetapi guru-gurunya bukan pluralis. Bahaya sekali dan akan merusak ide besar kami. Makanya, orang tua juga harus mandapatkan training atau semacam acara bulanan sehingga mereka bisa memahami pluralisme.”
Mengapa sampai begitu dahsyat sekali faham pluralisme agama berkembang di Indonesia? Jawabannya adalah ringkas; kerana Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara perlembagaan tidak memberikan hak istimewa kepada Islam untuk menjadi agama rasmi negara, yang akhirnya Islam secara khusus tidak dilindungi dari segi undang-undang. Ini mesti menjadi pengajaran kepada Malaysia supaya terus mempertahankan Islam sebagai agama rasmi negara dalam perlembagaannya. Apabila tidak ada perlindungan undang-undang ini, maka anasir-anasir yang merosak Islam dari dalam begitu mudah disebarkan dalam masyarakat tanpa boleh dihalang oleh pemerintah Indonesia sendiri.
Apabila Majlis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun lepas mengeluarkan fatwa bahawa faham pluralisme agama adalah bercangggah dengan akidah Islam, maka fatwa itu telah dikecam oleh kelompok JIL, bahkan MUI dianggap tolol dan diperbodoh-bodohkan oleh mereka. MUI pada 29hb Julai 2005 diantaranya mengeluarkan fatwa bahawa:
“Pluralisme agama adalah suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan kerenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.”……….“Pluralisme…sebagaimana dimaksud pada bagian pertama adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam.”
Namun sayang, akibat tidak adanya kuasa undang-undang, fatwa di atas tidak mengikat setiap Muslim di Indonesia. Akibatnya aliran Islam yang menyeleweng tetap subur di negeri ini, maka masyarakatlah yang bertindak mengambil jalan sendiri. Kes aliran Ahmadiyah menjadi bukti apabila akhirnya masyarakat Islam yang prihatin terhadap semakin merebaknya faham ini mengambil tindakan sendiri menceroboh pusat kegiatan Ahmadiyah di Parung, Jawa Barat, baru-baru ini. JIL atas nama pluralisme dan kebebasan beragama mengecam keras tindakan tersebut, sementara Majlis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan kembali fatwa, memperkuat fatwa sebelumnya, bahawa aliran Ahmadiyah adalah terkeluar Islam. Bahkan Majlis Ulama Indonesia menyatakan dalam fatwa yang sama bahawa, “Pemerintah berkewajiban melarang penyebaran paham Ahmadiah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.” Namun kerana fatwa tersebut tidak memiliki kuasa undang-undang di Indonesia, kelompok Islib tetap berani mempersedakan MUI di hadapan publik.
Ajaran Islam mengakui adanya ‘religious plurality’ dalam arti menerima adanya perbezaan dan kepelbagaian agama dalam kehidupan bermasyarakat, bukan ‘religious pluralism’ yang menyamakan semua agama. Prinsip ‘lakum dinukum waliyadin’ dan juga ‘la ikraha fiddin’ menjadi teras utama toleransi dan kerukunan beragama dalam Islam. Prinsip ini pada dasarnya menerima adanya perbedaan agama dari segi akidah dan keyakinan masing-masing, sementara pluralisme agama ingin memansuhkan perbedaan tersebut sehingga para penganut agama tidak boleh meyakini lagi agamanya sebagai kebenaran.
Pada akhirnya pluralisme agama itulah yang mengklaim dirinya sebagai kebenaran, sedangkan klaim kebenaran agama yang sedia ada dinafikan dan tidak boleh dikemukakan di hadapan publik. Pluralisme agama dalam bentuknya sebagai ‘civil religion’ yang sekular memang bercita-cita menjadi polis kepada agama-agama yang ada. Mana-mana agama atau negara yang melanggar rule of the game paham ini akan dikenakan hukuman dan didenda atas keyakinan dan perbuatannya. Bahkan agama yang mendakwa bahawa dirinya sahaja yang benar boleh dikira sebagai ‘agama jahat’. Itulah kesan yang ingin ditimbulkan oleh sebuah buku pendokong pluralisme agama yang bertajuk ‘When Religion Becomes Evil’
Kita melihat usaha penubuhan Interfaith Commision (IFC) di Malaysia adalah dalam rangka penyebaran faham pluralisme agama yang kita bincangkan. Semua tuntutan golongan ini tanpa segan silu lagi jelas-jelas menyerang prinsip-prinsip Islam sebagai agama rasmi yang dilindungi oleh perlembagaan Malaysia. Marilah kita perhatikan tuntutan-tuntutan golongan ini:
1.     Seorang anak yang dilahirkan oleh ibu bapa Islam tidak mengharuskan secara terus menjadi orang Islam.
2.     Orang-orang bukan Islam yang telah memeluk agama Islam hendaklah diberikan kebebasan untuk kembali kepada asal agama mereka (murtad) dan tidak boleh dikenakan tindakan undang-undang.
3.     Sebarang kes pertukaran agama orang Islam kapada bukan Islam tidak sepatutnya dikendalikan oleh mahkamah Syariah tetapi dikendalikan oleh mahkamah civil.
4.     Tidak perlu dicatatkan di dalam kad pengenalan seseorang Muslim bahawa ia beragama Islam.
5.     Orang bukan Islam tidak perlu dikehendaki menganut Islam sekiranya ingin berkahwin dengan orang Islam. Orang Islam hendaklah dibenarkan keluar daripada Islam (murtad) sekiranya ingin berkahwin dengan orang bukan Islam tanpa boleh dikenakan apa-apa tindakan undang-undang.
6.     Seseorang atau pasangan suami isteri yang menukar agamanya dengan memeluk Islam tidak patut diberikan hak jagaan anak.
7.     Orang-orang yang bukan Islam yang mempunyai hubungan hubungan kekeluargaan dengan seorang yang memeluk Islam hendaklah diberikan hak menuntut harta pusakanya selepas kematiannya.
8.     Kerajaan hendaklah menyediakan dana yang mencukupi untuk membina dan menyelenggara rumah-rumah ibadah orang bukan Islam sebagaimana kerajaan menyediakan dana yang serupa untuk masjid.
9.     Orang-orang bukan Islam handaklah dibenarkan dan tidak boleh dihalang daripada menggunakan perkataan-perkataan suci Islam dalam percakapan dan sebagainya.
10.    Bible dalam bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia sepatutnya dibenarkan untuk diedarkan kepada umum secara terbuka.
11.    Pelajaran agama bukan Islam untuk penganut agama itu hendaklah diajar di semua sekolah.
12.    Program-program berunsur Islam dalam bahasa ibunda suatu kaum handaklah ditiadakan. Program dakwah agama lain selain Islam pula hendaklah dibenarkan untuk disiarkan dalam bahasa ibunda masing-masing.
13.    Orang-orang Islam yang membayar zakat tidak sepatutnya dikecualikan daripada membayar cukai pendapatan dan wang hasil zakat sepatutnya digunakan juga untuk keperluan orang-orang bukan Islam.
14.    Sepatutnya Islam tidak disebut sebagai pilihan pertama masyarakat Malaysia separti dalam soal pakaian menutup aurat kepada pelajar sekolah.
Tuntutan-tuntutan di atas sebahagian besarnya bercanggah dengan ajaran Islam dan kepentingan umat Islam di Malaysia. Bukankan aneh apabila ada orang Islam atau kumpulan Islam yang mendokongnya? Namun kenyataannya ada kumpulan yang menamakan diri “Sisters In Islam” (SIS) menyetujui dan menyokong IFC. Itulah realiti pemikiran Islib; orang-orang Islam sendiri yang secara zahirnya tidak mahu dikatakan bukan Islam, tetapi batinnya tidak mahu tunduk dan patuh pada ajaran-ajaran Islam, atau seperti ungkapan Pak Rasjidi, orang Islam “yang tidak mempunyai hubungan batin dengan Islam.”

Persoalannya, bolehkah lagi pemikiran itu dinamai dengan nama ‘Islam’ seperti dalam ungkapan ‘Islam liberal’ apabila bagi mereka ajaran Islam pada hakikatnya tidak berbeza dengan ajaran-ajaran yang lain? Imam al-Ghazali pernah menulis satu risalah kecil dengan tajuk ‘Faisal al-Tafriqah Baynal Islam waz Zandaqah’ (Fasal Kecil Tentang Perbezaan Islam dan Faham Zindiq). Berdasarkan risalah ini orang Islam yang batinnya benci kepada Islam bolehlah disebut sebagai Zindiq. Pemikiran Islib kebanyakannya adalah pemikiran zindiq yang merosak Islam dari dalam tubuh Islam itu sendiri.

Oleh: Dr. Ugi Suharto
International Islamic University Malaysia
Share To: